Seperti Detektif

Selama aku tinggal di rumah mertua, aku menemukan banyak sekali kejanggalan dalam masalah keuangan suamiku. Ternyata selama ini suamiku hanya menjadi “tambal butuh” saudara-saudaranya saja. Sudah berapa banyak kebohongan yang sudah berhasil ku bongkar, mulai dari uang lemari yang selama ini aku kirim untuk dibayarkan cicilan-nya sampai dengan kelakuan adeknya yang keterlaluan. Selama ini banyak sekali yang disembunyikan dari suamiku, setip kali ada permasalahan selalu disembunyikan. Namun setelah aku tinggal di sini, satu persatu kebusukan terungkap.

Aku merasa sangat kasihan dengan suamiku yang bekerja mati-matian demi menghidupi orang tuanya ternyata uang pemberian suamiku itu dimintai oleh saudara-saudaranya. Mulai dari membeli susu anaknya, membayar sekolah, bahkan beli makanan ayam dan rokok saja minta mertua. Aku bener-bener merasa sedih melihatnya. Semua urusan yang diuruskan saudarnya tidak ada yang beres. Padahal berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan oleh suamiku.

Selama ini, aku dan suamiku ingin sekali memiliki rumah. Untuk menabung saja rasanya sulit sekali karena setiap bulan ada saja kebutuhan. Yang harus beli timbunan tanah lah, yang sodaranya minta inilah, itulah. Oh God, kenapa mereka begitu tidak tahu diri. Kenapa mereka selalu mengganggu suamiku padahal kita sudah punya keluarga masing-masing.

Sedikit cerita, sebelum aku menikah dengan suamiku, kami memang sangat terbuka dalam segala hal. Suamiku begitu mencintai aku sehingga sudah menganggapku sudah seperti istrinya sendiri. Dalam segala hal dia selalu berkompromi dan meminta persetujuan dariku. Ada beberapa contoh permasalahan yang dari awal aku ketahui karena suamiku meminta persetujuan dariku sebelumnya. Selama ini karena aku tidak tinggal di sini aku dan suami menganggap semua urusan di sini baik-baik saja. Tapi betapa terkejutnya aku dan suami setelah aku jadi “detektif”. Semua terbongkar. Contohnya selain lemari adalah masalah BPKB motor yang digadaikan dan bahkan motorpun juga digadaikan. Padahal motor itu suamiku yang beli, suamiku yang setiap tahun membayar pajak, suamiku yang mengganti kerusakan dan semuanya sedangkan mereka hanya tinggal pakai. Betapa seperti binatang pikiran mereka yang sudah dibutakan oleh setan dan tidak bisa berfikir waras.

Masalah terakhir saat ini adalah tanah. Sertifikat tidak keluar padahal sudah hampir dua tahun. Ceritanya suamiku mendapat hutang kredit usaha dengan menggunakan usaha bengkel kakaknya untuk membayar tanah itu. Sudah bisa ditebak lah sudah pasti uang itu tidak utuh diterima karena ada embel-embel biaya. Tapi sekarang, sertifikt saja tidak keluar, dimintai balik uangnya saja juga gak balik-balik. Suamiku masih harus membayar polisi pula untuk menagih uang tanah tersebut. Bisa dibayangkan berapa banyak kerugian suamiku akibat ketidakbecusan para oknum yang hanya ingin memanfaatkan uang suamiku.

Tapi sudahlah, itu semua memang bukan rejeki kami. Toh itupun semua dibeli sebelum aku menikah. Benar kata orang tuaku, semua lebih enak diurus sendiri. Dari awal mereka kurang sreg kalau masalah tanah diuruskan orang apalagi atas nama orang lain. Semoga saja Allah akan mengganti semuanya dengan yang lebih baik. Dan mulai sekarang aku tidak akan mudah percaya dengan orang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: